Jumat, 03 April 2009

Sehari 5 kali

Siapa yang menyangka, Teropong_organisasi tempat aku bernaung dan meniti karir hualah! yang telah mengukir banyak prestasi bahkan nyaris tidak pernah mengalami kendala setiap kali bikin kegiatan, dan sangat “dicintai” oleh Rektorat, malah mengalami berbagai kesialan hanya dalam kurun waktu satu hari.

Semua berawal ketika kami mengadakan Inisiasi di Bumi Perkemahan Sibolangit. Inisiasi adalah program kerja tahunan salah satu divisi yang ada di Teropong, yakni divisi Litbang (penelitian dan pengembangan). Konsepnya adalah pengkaderan sekaligus pengukuhan anggota magang menjadi anggota muda. Acara berlangsung selama tiga hari. Pada hari pertama dan kedua, acara berjalan dengan sangat mulus, bahkan sampai hari ketiga pun semuanya berjalan lancar. 

Sinabung Sialan!

Kira-kira pukul 3 sore di hari ketiga, ketika semuanya siap-siap untuk pulang, Sigit_si panitia seksi Transportasi, menyampaikan kabar tidak sedap. Bus Sinabung yang seharusnya menjemput kami, tidak bisa datang. Ternyata, kami ditipu kernet yang mengurus administrasi bus. Si kernet sialan itu hanya membayarkan sekitar 200 ribu kepada sopir untuk antar saja. Padahal kami sudah membayar 450 ribu sebagai panjar untuk antar-jemput. Kernet bus aja bisa korupsi, apalagi yang laen??.

Seperti disambar petir rasanya. Di benakku langsung terbayang hal-hal yang mengerikan.
Pulang naek apa neh? Malah duit udah habis, bekal juga udah habis. Setelah mencoba tenang di tengah kepanikan, aku langsung berpikir keras, sambil mencari-cari daftar nama di phone book, siapa yang kira-kira bisa menjemput ku di kampus. Si anu…ngga ah! (kegeeran pulak nanti), Si inu…ah malas! (tak mantap) Si unu…gensi donk (masih sempet-sempetnya mikirin gengsi!) Aha! Dapet satu nama. Ade! (sepupu gadungan ku).
Tuutt…tuuuttt… begh! Tak diangkat, rupanya lagi main bola. SMS aja. Eh dibales, Syukur… satu masalah aman.

Jarak dari Mess (PTPN-4) tempat kegiatan Inisiasi ke depan pintu gerbang Sibolangit, lumayan jauh. Kami pun terpaksa jalan kaki dengan memboyong semua perlengkapan. Mulai dari peralatan masak (kompor, kuali, dandang), peralatan makan (piring, gelas, mangkok), dispenser, ember, tikar bergulung-gulung, rice cooker dan banyak lagi. Koq kayak pindah kos ya?? Belum lagi peralatan masing-masing, Tas, ransel, sleeping bad, macem-macem lah. Mending juga kalau jalan yang dilewati mulus dan rata. Eh, jalannya tu bak Ninja Hatori (mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah…) bener-bener kayak nyanyian zaman TK dulu (kiri…kanan…kulihat saja, banyak pohon stroberi_cemara_adanya stroberi_iklan kali bah!)


Si Kuning

Setelah betis cukup bengkak karena jalan kaki sambil membawa Dispenser ciing…sampai juga di Gerbang Sibolangit. Sambil menunggu teman-teman lain yang sibuk menawar bus yang lewat, yang lainnya sibuk berpoto ria, termasuk aku. Dua-tiga bus, tidak ada yang deal. Ciiitt…Eh, sekonyong-konyong satu unit truk bak terbuka berwarna kuning, spontan berhenti. Aku lihat beberapa teman ku langsung menghampiri dan langsung bernego. Cas..cis..cus…deal! mereka berbalik arah dan berkata,
“Yook, kita susun barang-barangnya dulu…”
What??!! Naek truk?? Truk gitu loh coy??

Dengan harga 200 ribu, kami semua akhirnya pulang juga dengan si kuning itu. Dalam hatiku, mudah-mudahan ini truk bekas ngangkut kayu atau barang, asal jangan bekas ngangkut binatang yang “ngorok-ngorok” itu. Hii… amit-amit. Tapi temen aku bilang,
“tenang aja kak, ini truk bekas ngangkut kayu pabrik.” Ohh… lega aku.

Untung lah, truknya tidak begitu kotor. Jadi kami bisa duduk dialasi tikar. Semua tertawa gembira. Saking ngga pernah-pernahnya dalam sejarah Teropong, pulang kegiatan naik Truk. Jepret!! Setiap moment diabadikan. Mulai dari naik, sampai truk berjalan. Terus terang aku juga sangat menikmati perjalanan itu. Sempat terlintas di pikiran kami, gimana kalo ujan ne?? tapi melihat awan yang cukup cerah, kami yakin kalau perjalanan akan aman.

Byurr…

Perjalanan mulai melewati Sembahe, salah satu tempat wisata di Sumut yang sering di datangin anak sekolah dari penjuru daerah kalau lagi lulus-lulusan (coret-coret baju). beberapa dari kami sempat tertidur, bagitu juga dengan aku. Aku tidak tahu berapa lama aku terlelap. Tiba-tiba aku dibangunkan oleh suara ricuh teman-teman sambil teriak Ujan..ujan..

Wups! Benar saja. Hujan turun dengan derasnya. Semua sibuk menyelamatkan barang-barang yang sensitive dengan air. Handphone dan kamera kami kumpulkan dalam satu kantong plastik dan dilapisi sleping bad. Sementara kami berlindung dibawah tikar. Tapi tikar hanyalah tikar. Tidak bisa menampung air hujan. Aku teringat ranselku, didalamnya ada kamera, laptop plus chargernya. Tanpa mikirin badan ku yang basah kuyub, aku cepat-cepat melindungi dan memastikan kalau hartaku itu aman. Maklum saja, kamera bukan punya aku, tapi punya salah satu teman dekatku. Dan laptop, tentu saja amanah milik orang tuaku. Tikar tidak lagi berguna. Kami semua basah kuyub dan menggigil kedinginan. Di saat-saat yang seperti itu pun masih saja ada teman ku yang tertawa kegirangan. Termasuk aku juga sich…

Memasuki Jln.Jamin Ginting, ku lihat tanahnya kering, tanpa genangan air sedikit pun. Berarti tadi itu cuma hujan lokal. Hhh…syukurlah. Sesampainya di simpang pos, kami semua bersiap untuk turun. 
Weitz, koq malah turun, kan belum nyampe kampus bez?? 
Cuma karena alasan takut ketahuan dengan atasan kalau truknya malah mengangkut orang-orang diluar pekerjaannya. Ahh… tega nian si sopir.
Kami pun turun dipinggir jalan yang ramai, malah nyaris buat kemacetan. Lagi-lagi harus sabar. Biar gimanapun sudah syukur si sopir truk mau mengangkut kami. Dari jalan ini, kami berpisah. Beberapa orang sudah pulang dan naik angkutan lain yang langsung menuju rumah. Sementara beberapa orang lagi harus kembali kekampus untuk membawa barang-barang. Diantaranya aku.

16 atau 17 orang??

Seorang sopir angkutan umum Rahayu (aku lupa berapa nomer dan tujuannya) berwarna merah dan hijau lumut mencoba bernego. Hasil akhirnya, 65 ribu untuk 16 orang plus barang sampai kampus. Baru sekitar lima menit perjalanan. Si sopir sedikit protes, 
“Dek, tadi katanya 16 orang, kok sekarang ada 17 orang, cemananya kelen ini???” celetuknya dengan logat batak yang sangat kental. Masing-masing menghitung. 

Ups! Ternyata bener, ada 17 orang yang naik. Si sopir terus merepet-repet. Sementara, si ketua rombongan, Arif yang sudah terlanjur emosi, malah balik marah-marah. Wadoh! bisa kacau ne urusannya. Ngga mungkin juga kami turun lagi, cuma karna slip satu orang. Aku yang duduk di depan (sebelah abang sopir), mencoba menenangkan 
“Maap bang, mungkin tadi kami yang itung,” kataku. 
“Haa..gitu lah, kan aku tahu jadinya. Gampang ajanya samaku…” jawab si abang sopir.

Setelah ketegangan itu, suasana sempat hening beberapa saat. Sampai akhirnya kami sadar, koq perjalanan malah makin jauh ngga tahu mau kemana. Ternyata si abang menyangka letak kampus kami di Amplas, jarak yang cukup jauh dari Muchtar Basri (Kampus kami). 
“Bilang lah dek, kalo kampus kelen di Glugur, abang kira tadi yang ke arah Amplas itu.”
“Lha, kami kira abang udah tau, makanya jalan aja.”
Hadoh, ini siapa yang bego sih??
“Jadi abis ini, kita kemana lagi? Mutar lah kita ya…” tanya si abang.
Wahh… ini siapa yang sopir siapa yang jadi penumpang ya?? 
Malah jadi kami navigatornya. 
Abis ini bang, ambil kiri aja, terus ke kanan, terus aja bang…bla..bla..bla..

Kuncinya Mana??

Sekitar pukul 18.30, kami tiba di kampus. Bayangkan, perjalanan yang seharusnya cuma satu setengah jam, ternyata harus kami tempuh sampai dua setengah jam, dari pukul 4 sore. Semua barang-barang pun kami turunkan persis di parkir mobil WR (Wakil Rektor). Setelah semua barang turun, dan si abang dudunk itu pergi dengan ongkos 70 ribu. Kami terhenyak sesaat. 

“Kunci sekret sama siapa bang??” 

Wadoh!!! tidak satupun diantara kami yang megang kunci sekretariat Teropong. Yang lainnya sudah pada pulang. Tinggal kami ber-enam yang terpaksa menunggu lagi sampai si Juru kunci (Andi) datang dari rumahnya di Marelan. Sambil nunggu, kami mencari-cari sesuatu yang bisa dimakan. Untung masih ada nasi, dan lauk sisa makan siang. Dengan keadaan seadanya, dan masih berada di parkir mobil WR, kami makan bersama-sama. (kayak tuna wisma yang ngga punya rumah) Huh!! Tapi berhubung lapar berat dan tidak tahu lagi seberapa beratnya, kami tidak perduli lagi.

Sampai akhirnya, sang juru kunci tiba. Kami selamat!
Dan lengkaplah sudah perjalanan sekaligus kesialan kami selama satu hari.
“Woi, kayaknya kita mesti sedekah, biar berkah!”


30 Maret 2009

Pohon-Pohon Yang Malang

Fungsi pepohonan yang berjejer di sepanjang jalan, selain untuk memperindah dan memberi kesan sejuk bagi pengguna jalan di kota Medan juga berfungsi untuk menyaring polusi udara yang kerap memproduksi Karbondioksida (CO2). Lapisan ozon yang semakin menipis membuat sinar matahari semakin terik hingga kita sering merasa suhu udara sangat panas pada siang hari. Namun ternyata fungsi pohon yang berada di sepanjang trotoar jalan raya, malah dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk memasang segala bentuk poster, dan semacamnya.

Poster ataupun iklan tersebut di pasang dengan cara memasang paku hingga berukuran 5 inchi. Bayangkan saja jika dalam satu pohon terdapat minimal 5 buah paku, maka jika dikalikan dengan 1000 pohon maka ada 5000 buah paku yang tertempel di pohon-pohon kota. Bisa dibayangkan betapa menderitanya pohon-pohon tersebut. Belum lagi jika Pemko terkadang banyak sekali menebang pohon-pohon tersebut dengan alasan untuk merapikan bentuk pohon demi keindahan kota. Namun yang terjadi adalah jalanan terasa panas, apalagi saat pengguna jalan sedang melintasi trotoar dan tengah terjebak di Traffic Light. Sampai-sampai teman saya yang liburan atau berkunjung ke kota Medan, kesan mereka adalah Medan kota yang sangat panas dan gersang.

Hal itu tentu saja sangat berdampak bagi pariwisata kota Medan sendiri. Jika image Medan yang panas itu sampai terdengar hingga ke seluruh pelosok negeri, maka tidak akan ada lagi wisatawan domestic maupun wisatawan asing yang tertarik untuk berkunjung kembali.

Harapan saya semoga semua pihak lebih memikirkan nasib pohon-pohon kota. Bagaimanapun juga pohon-pohon itu telah memberikan kita persediaan oksigen yang banyak untuk kelangsungan hidup kita.

Lets Go Green!!!

Selamatkan Pohon-pohon kota.

(Sierly Nolia-Harian Global)

Tak Kenal Siapa Caleg

Sebentar lagi warga Indonesia akan mengadakan pesta demokrasi. Dimana pada saat itu seluruh warga dari Sabang hingga Merauke akan menggunakan hak pilihnya untuk memilih dan menentukan siapa yang akan berhak menduduki kursi-kursi di DPRD, DPD, DPR-RI hingga Presiden. Dan dalam waktu dekat ini, tepatnya pada bulan April 2009 dijadwalkan akan segera melakukan Pemilihan Umum. Ratusan hingga ribuan poster wajah Calon Legislatif khususnya untuk DPRD Sumatera Utara terpampang di hampir seluruh pelosok daerah.

Selain merusak pemandangan kota, jalan, dan pepohonan yang harus menderita karena puluhan paku yang tertancap ditubuhnya, percaya atau tidak bahwa sebagian besar masyarakat tidak pernah mengenal dan mengetahui siapa wajah-wajah yang kerap tertempel di pinggir jalan tersebut. Ketika melintas, mungkin mereka hanya sekedar melirik dan melihat pose wajah di poster tersebut, syukur-syukur jika masyarakat masih mau membaca nama dan perwakilan dari partai apa si Caleg itu. Tapi kenyataan yang terjadi adalah masyarakat tidak kenal bahkan tidak perduli.

Jika seperti ini kejadiannya, maka bagaimana mungkin mereka dapat menggunakan hak pilihnya untuk mencontreng si Caleg, jika mereka sendiri tidak tahu menahu sedikit pun tentang siapa wajah-wajah tersebut. Miris sekali rasanya, jika kita melihat kenyataan yang seperti ini. Ketika tata kota yang sudah jelek karena poster-poster dan pepohonan yang kesakitan menanggung ribuan paku belum lagi milyaran rupiah yang harus dikeluarkan untuk menempah segala atribut kampanye, padahal masyarakat tidak perduli.

Masyarakat tentu saja tidak mengharapkan para Caleg yang hanya jual tampang di pinggir jalan, tetapi bukti dan perbuatan konkrit yang dapat menguntungkan dan berguna bagi masyarakat. Bagaimanapun juga, yang diharapkan dari hasil pesta demokrasi mendatang adalah adanya perubahan yang lebih baik dari sebelumnya. Bukan sekedar jual tampang dan senyuman di poster-poster pinggir jalan.

Malaikat Kecil (Gaza kids)

Mendung masih bergemuruh
Aku terpaku di sudut jalan 

Sendiri tanpa tangan ibuku
Tanpa suara ayahku
Tanpa tawa saudara-saudaraku

Dimanakah aku kini?
Aku tersesat tanpa arah
Kakiku terlalu lelah berlari
Tanpa aku sadari
Darah di dahiku tlah membeku

Aku hanya ditemani
Seuntai benang di tubuhku
Aku tak lagi bisa merasakan panas mentari
Atau dinginnya malam yang menusuk
Bahkan aku tak lagi bisa
Merasakan perih

Air mataku seakan kering tersapu debu

Aku hanya satu putik dahan
Yang terlalu rapuh untuk kau tiup
Aku hanya sehelai daun tanpa asa
Yang terlalu hina untuk kau bakar
Aku hanya sebulir pasir
Yang terlalu ringan untuk kau hempas

Kembali aku mencoba berdiri
Menyusuri puing-puing
Tak perduli seberapa jauh
Tak perduli seberapa sakit
Tak perduli siapa mereka
Tak perduli jika mesiu menembus ragaku 
Aku hanya ingin mencari Nurani

Kemana perginya Nurani itu??
Aku mohon jangan pernah sembunyi!!!

Rabu, 07 Januari 2009

Seleb Salah Ngomong!!!


Luna Maya : “Israel, aku pasti kembali…”

Siapa yang tidak kenal dengan Luna Maya. Seorang aktris yang dinobatkan sebagai salah satu selebritis terpopuler dengan bayaran termahal tahun 2008 versi salah satu majalah. Mengawali karir sebagai model catwalk dan kini ia dikenal sebagai bintang film.

Selain berprofesi sebagai bintang film, sekarang ia mulai menjajaki dunia presenter. Dimana profesi barunya itu merupakan ujung tombak asset penjualan dari acara yang dibawakannya.

Yha, acara tersebut adalah “Dahsyat”, salah satu acara musik yang menampilkan chart atau tangga lagu dari berbagai musik se-indonesia. Belakangan, acara yang juga dibawa oleh Olga Syahputra dan Raffi Ahmad ini sukses dan menempati rating pertama diantara jajaran acara musik dengan konsep yang sama.

Penonton kerap terhibur oleh aksi ketiga presenter tersebut (Olga, Raffi, Luna), dengan saling ejek seputar mantan pacar. Tidak jarang juga, mereka bercanda sampai mengocok perut para pemirsa setia Dahsyat dengan ulah konyol mereka. Dan hadirnya Luna Maya tentu saja adalah salah satu faktor terbesar mengapa “Dahsyat” sukses memikat hati para penonton.

Pada episode “Dahsyat” tanggal 05 Januari 2009, seperti biasa “:Dahsyat” selalu menghadirkan bintang tamu untuk tampil secara live di studio. Salah satu bintang tamunya adalah Nidji. Sebagai insan musik yang juga perduli dengan apa yang terjadi di dunia, yakni berita seputar Israel vs Palestina yang semakin parah, hingga menewaskan lebih dari 500 orang warga sipil Palestina, Nidji pun menyumbangkan sebuah lagu mereka yang berjudul “Shadow.” Di akhir lagu, Giring sang vocalist mendedikasikan lagu tersebut khusus untuk Palestina sembari berkata “Peace for Palestine…” (kurang lebih seperti itu yang dikatakan Giring).

Selang beberapa menit kemudian masuk lha Luna Maya dan Olga beserta Raffi untuk membacakan chart lagu selanjutnya. Saat Luna membacakan chart lagu Pasto yang berjudul “Aku Pasti Kembali,” dengan yakinnya dan tanpa rasa malu Luna berkata

Israel, aku pasti kembali…

Sontak saja, aku yang mendengarkan dengan cukup jelas itu, tertawa terbahak-bahak. Melihat betapa bodohnya Luna Maya ketika itu.

Dan aku yakin bukan hanya aku yang mendengarkan ia bicara seperti itu, tapi seluruh nusantara, karena acara tersebut disiarkan secara Live tanpa sensor!

Hellou Luna… kemana aja Lo???

Saat ini, seluruh dunia sedang mengutuk habis perbuatan Israel yang menyerang Palestina dengan puluhan rudalnya ke Jalur Gaza, dimana telah banyak menewaskan banyak korban terutama anak-anak dan wanita.

Jadi, jangan gila dong Luna, kalau kamu malah mendukung Israel. Oke, anggap saja kamu salah ngomong karena terlalu bersemangat membawakan acara itu. Tapi Luna, berita itu sudah sangat gempar dan hampir disiarkan setiap hari di televisi, radio dan Koran-koran nasional. Malah seluruh dunia sedang membicarakan hal itu. Sampai ratusan simpatisan berbondong-bondong melakukan demo menentang Israel.

Lucu aja kali yha, seorang Luna Maya bisa salah ngomong. Atau jangan-jangan ia malah sama sekali tidak tahu masalah kemanusiaan tersebut, dan akhirnya asal-asal ngomong aja deh!! Cuma karena ingin ngikutin apa yang dilakukan Giring sebelumnya.

Sama halnya dengan Nadine Candrawinata, yang pernah salah ngomong ketika berkompetisi di ajang paling bergengsi dunia “Miss Universe”.

Waktu itu, Nadine menyebut Indonesia dengan sebutan “Indonesian City” bukan “Indonesian Country.”

Karena kesalahan itu, seluruh Indonesia jelas kaget donk… masa sih, seorang Nadine yang sudah berhasil mengalahkan saingan di Negaranya sendiri, malah mempermalukan dirinya sendiri di depan dunia internasional. Padahal, Nadine sendiri adalah Putri Indonesia berdarah Jerman dan sudah biasa keluar negeri juga sangat fasih berbahasa inggris (aksen bicaranya saja seperti kebarat-baratan). Lucu sekali bukan??

Sebenarnya tidak sedikit juga, seorang selebritis salah ngomong ketika tampil di sebuah acara. Contoh lainnya adalah VJ Mike. Secara tidak sengaja ataupun dengan sengaja (Who knows?) dia mengeluarkan sebuah kata dari bahasa daerah “Pantek” yang sebenarnya memiliki arti yang sangat tidak sopan, yakni bulu yang berada di sekitar alat kelamin, pada saat membawakan acara MTV Ampuh. Yang acaranya juga disiarkan secara live.

Ya amplop!!! Plis deh bho!!

Mending kalian belajar banyak lagi deh. Kalau emang nggak bisa ngomong bener, lebih baik nggak usah terima job yang acaranya siaran langsung. Malu-maluin diri sendiri aja loe!!!

Sumpah "D"

Sumpah “D”


B

eberapa tahun yang lalu, aku bertemu dengannya. Pertemuan singkat yang meninggalkan jutaan rasa saat itu. Rasa yang membuat aku nyaris buta oleh kehangatan yang ia tawarkan. Aku terlalu senang ketika itu. Aku hanya berpikir, bagaimana caranya agar aku bisa menghapus luka masa laluku ketika bersamanya. Dan aku berhasil.

Dalam kurun waktu 2 minggu, dia telah berhasil menempatkan namanya di salah satu ruang di hatiku. Dan berhasil memburamkan sedikit bekas luka itu. Entah apa yang membuat aku yakin saat itu, bahwa dia lah sosok yang dapat membuatku bahagia. Dalam sekejap ia juga mampu menepis segala keraguan, bahkan aku nyaris tidak perduli dengan apa kata dunia tentang dia.

Namun dalam kurun waktu 2 minggu juga, dia telah berhasil menorehkan kembali luka yang saat itu rasanya jauh lebih sakit dari yang dahulu. Di suatu hari yang tidak begitu cerah untukku, aku mendapat satu kenyataan pahit. Tepat di depan kadua mataku, aku melihatnya bersama orang lain. Dengan berbagai alibi, ia mencoba untuk menutupi kesalahannya. Saat itu juga aku tahu, bahwa ternyata aku adalah orang ketiga dalam hubungan mereka. Posisi yang amat sangat aku benci.

Jutaan kata penyesalan keluar dari bibirnya. Dia bilang, yang ia inginkan sesungguhnya hanyalah aku. Tapi ia belum menemukan waktu yang tepat untuk mengatakan pada orang pertama itu. Hati ku terlalu sakit, dan aku tidak bisa menerima satu patah katapun dari ucapannya. Lagi-lagi sahabatku benar tentang dia. Sesalpun menggelayut di benakku, mengapa aku tidak pernah perduli dengan kata-kata sahabatku, yang justru mereka sudah bersusah payah menyadarkanku.

Sejak kejadian itu, aku selalu berusaha untuk memutuskan hubungan dengannya. Mulai dari menghindarinya setiap kali ia mencariku, sampai aku terpaksa mengganti nomor handphone demi jauh darinya. Aku bersyukur saat itu, aku masih memiliki banyak sahabat yang sangat perduli padaku. Mereka seakan tidak pernah berhenti menghiburku. Sekalipun mereka justru adalah kaum adam.

Namun beberapa bulan setelah itu, ternyata dia masih tetap mencariku. Entah bagaimana caranya, dia selalu bisa mendapatkan nomer handphoneku. Mulai dari GSM sampai CDMA pun dia tahu. Dalam kurun waktu 2 tahun, ada lebih dari 5 kali aku mengganti nomer handphoneku.

Ketika aku mendengar suaranya dibalik selularku, aku berusaha tenang dan beranggapan bahwa dia hanya sekedar Say hello. Tapi ternyata di balik basa-basi itu, dia terus memintaku untuk kembali. Namun sayangnya, setiap kali ia kembali, aku selalu sedang tidak sendiri. Satu-dua kali aku bilang bahwa aku tidak bisa kembali padanya, ia masih bisa menerima.

Tetapi kali ini, ia kembali lagi. Entah darimana ia berhasil lagi mendapatkan nomer handphone ku yang baru aku ganti 7 bulan yang lalu. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda dari perkataan dia sebelumnya. Kali ini dia jauh lebih serius.

Dia berkata panjang lebar tentang segala perasaannya selama 2 tahun belakangan ini. Bahwa selama 2 tahun ini, ia sudah sangat cukup sabar menungguku. Ia sudah sangat toleran ketika ia melihatku bersama orang lain. Ia bahkan tidak perduli jika saat ini, dalam hatiku sudah ada orang lain. Dan ia tidak akan pernah jera sampai aku kembali.

Berulang kali juga aku meyakinkannya, kalau dia bisa mendapatkan perempuan manapun yang jauh lebih baik dari aku. Tapi dia bersikeras bahwa dia hanya menginginkan aku. Entah sudah berapa kali ia berjanji, kalau suatu saat aku kembali padanya, dia bersumpah tidak akan pernah menyakitiku. Dia ingin aku adalah orang terakhir untuknya, dan dia adalah orang terakhir untukku.

Dia selalu bertanya, mengapa aku tidak pernah memberinya kesempatan sekali lagi. Terkadang aku juga berpikir dan bertanya pada diriku sendiri dengan pertanyaan yang sama. Sampai sekarang pun aku tidak tahu jawabannya.

Namun kali ini, masalahnya bukan hanya terletak pada waktu. Tetapi justru mungkin ada dalam diriku sendiri. Mengapa aku begitu sulit untuk kembali percaya padanya. Padahal aku selalu meyakinkan orang-orang di sekelilingku, bahwa setiap orang berhak mendapat kesempatan dan setiap orang pasti bisa berubah. Lantas mengapa justru aku yang tidak yakin pada kata-kata yang aku lontarkan sendiri itu? Sekalipun aku sudah melupakan semua kejadian itu. Walau luka itu akan selalu membekas.

Sesaat, dia nyaris berhasil membuatku untuk sejenak memikirkannya. Dan bahkan dia berhasil membuatku berfikir untuk kesekian kali, apakah inilah waktu untuknya kembali. Namun, di suatu malam yang hening tanpa suasana berarti, sebuah dering mengalun dari ponselku. Aku lihat nomor “D” memanggilku. Tapi anehnya, justru suara seorang perempuan di seberang sana yang berbicara ketus padaku. Ia berkata cukup singkat. “Tolong jangan hubungi D lagi!” sontak aku kaget. Ternyata, baru aku sadari bahwa aku sedang berbicara dengan pacar “D”. Namanya Rini. Setelah aku menceritakan duduk persoalan yang sebenarnya, bahwa selama ini “D” lah yang selalu mengusik hidupku, bahwa “D” dulu pernah membohongiku, bahwa “D” tidak pernah cerita tentang Rini, dan segala sumpah dan janji yang pernah “D” ucapkan untuk meyakinkanku. Dan sumpah itu ternyata juga ia tujukan untuk Rini. Ia bersumpah bahwa apa yang aku katakan adalah bohong besar.

Tidak tanggung-tanggung, ia bersumpah, bahwa kalau “D” berkata bohong pada Rini, maka satu keluarga “D” akan celaka. Yha! Itulah “D”. ia akan berusaha sekuat otak dan tenaga, untuk meyakinkan perempuan manapun bahwa ia adalah laki-laki paling jujur di dunia ini. Setelah saat itu, aku sempat beberapa kali sms-an dengan Rini. Ia benar-benar shock dan tidak tahu harus berbuat apa. Rini sudah terlalu lelah, dengan semua kebohongan “D”. tapi ia tidak punya daya, karena setiap kali Rini minta putus, “D” selalu mengiba, menangis bahkan mengancam akan bunuh diri.

Jujur, aku malah kasihan lihat Rini. Ia hanya korban. Aku bahkan tidak tahu entah berapa perempuan yang “D” permainkan hatinya. Mungkin itu penyakit atau apalah, aku juga tidak mengerti. Dan aku sekarang sudah sangat terbiasa mendengar kebohongan “D”. sampai-sampai aku bilang ke Rini, dunia ini akan kiamat kalau “D” bisa jujur dan setia hanya dengan satu perempuan. Sorry, Rin but that’s true. Aku mengerti apa yang Rini rasakan saat ini, ia pasti bingung harus berbuat apa. “D” pasti sudah sangat mempengaruhi hidupnya. Sampai-sampai Rini tidak bisa mengambil keputusan demi jalan hidupnya sendiri.

Rini sempat berkata padaku, kalau ada 3 perempuan saja yang ia sakiti hatinya dengan segala sumpah palsunya itu, pasti sumpah itu akan menjadi kenyataan. Benar saja. Selang beberapa hari kemudian, Rini bilang bahwa ayah “D” kecelakaan cukup serius. See?? Sumpah itu akhirnya benar-benar kejadian!

Percaya atau tidak, tapi ini kejadian yang benar-benar nyata. Jangan pernah bermain dengan sumpah. Perempuan adalah sama dengan ibu. Murka ibu adalah murka Allah SWT.

Entahlah, aku sudah kehabisan kata-kata untuk menghadapinya. Aku tidak tahu apakah kejadian ini akan menyadarkan “D” atau tidak, entahlah. Yang jelas sumpah “D” adalah senjata yang justru akan membunuhnya sendiri. Semoga “D” bisa berubah. Dan untuk Rini, kamu berhak dapat laki-laki yang baik. Di luar sana, masih banyak kaum adam yang masih punya hati tulus, dan jujur. Percayalah!


Aku sangat bersyukur, ternyata Tuhan memberiku petunjuk yang benar, sebelum terlambat. Dan semoga aku tetap bisa menjaga hatiku. Agar aku tidak melukai hati seseorang yang lain. Hati seseorang yang percaya padaku. Aku tetap percaya Tuhan itu Maha punya rencana. Maka apapun yang Dia rencanakan di garis hidupku, aku tahu itu pasti yang terbaik untukku.


Jumat, 28 November 2008

Empat Perempuan


Empat Perempuan

Untuk pertama kalinya aku sadar bahwa kini aku tak lagi hidup di zaman sebelum masehi. Terlalu banyak perubahan yang membuatku jengah. Perubahan yang terkadang membuat aku seakan terhanyut bahkan nyaris terjerumus dalam kubangan yang kerap mereka jajahkan. Ribuan bahkan jutaan warna-warni kenikmatan terhampar di depanku. Aku hanya tinggal memilih dan mengambil salah satunya untuk aku coba.

Jujur, semakin lama keadaan ini membuatku justru berada pada rasa takut. Takut ketika suatu hari nanti aku akan seperti orang-orang itu. Orang-orang sejenisku.

Para makhluk Tuhan yang disebut dengan perempuan. Sang pendamping kaum Adam.

Setiap hari halte itu tak pernah sepi dari penunggunya, yang sebagian besar adalah kaum hawa. Waktu masih menunjukkan pukul 07.10 WIB pagi. Ada beberapa orang yang sebenarnya sudah tidak asing berada disitu. Empat perempuan di posisi yang berbeda. Setiap hari mereka menunggu di halte yang sama, walau dengan bus yang berbeda tujuan.

Dara

Seorang diantaranya baru saja tiba. Sesampainya di halte tersebut, ia disibukkan dengan rambutnya yang tergerai begitu saja. Ia tersenyum simpul menatap betapa cerahnya mentari hari ini. Dara, begitu panggilannya. Ia tampak cantik ketika itu. Bahkan di setiap harinya, ia adalah sosok yang selalu tampak menarik. Tubuhnya terawat sangat baik. Nyaris tanpa cacat. Cantik.

Ada yang berbeda darinya hari itu. Ia tidak sedang menunggu bus. Seorang lelaki muda dengan mengendarai sepeda motor “jetmatic” mengampiri Dara. Ia kelihatan sangat bahagia. Ternyata lelaki itu adalah kekasihnya. Sejak saat itu, Dara tidak pernah menumpang bus lagi. Lelaki itulah yang sedia menghantar kemanapun Dara ingin pergi. Meski ia tetap harus menunggu kekasih hatinya di halte seperti biasa. Bukan masalah besar baginya.

Hubungan mereka terjalin hingga tiga tahun lamanya. Dan dua tahun terakhir, terlihat begitu banyak perubahan dalam hidup Dara. Bukan hanya tentang penampilannya yang kini tak semenarik tiga tahun yang lalu, tetapi juga terlihat pada bentuk fisiknya. Tubuh yang dulu bak gitar spanyol, kini persis seperti Cello. Lebih berisi di areal pinggul saja. Wajahnya memang masih cantik namun tidak lagi bersinar. Kehidupan Dara berubah 180 derajat. Dalam dunianya seperti hanya ada Ia dan kekasihnya, tidak ada tawa dari teman-temannya lagi, atau bahkan dari keluarganya sendiri. Dara seperti menenggelamkan diri dalam alam cinta yang ia selami sampai dasar yang paling akhir. Dara yang dahulu jarang sekali mengenal sosok pria, kini justru tidak pernah lepas dari sosok pria. Pria yang hanya lebih tua 2 tahun darinya. Pria yang tidak jelas pekerjaannya apa dan dimana. Pria itu bernama Haris.

Lelaki setampan dan sekaya apapun yang datang dan mencoba untuk mencuri hati Dara, sepertinya sudah tidak ada pengaruhnya lagi. Di matanya hanya ada Haris. Tapi apa memang ada, cinta sedahsyat itu? Cinta yang telah membutakan mata Dara. Cinta yang membuatnya hanyut dalam buaian, hingga ia tak lagi bisa memikirkan apa yang harus ia serahkan dan apa yang seharusnya tidak ia serahkan. Hingga ia tak lagi bisa membedakan bagian tubuh mana yang seharusnya masih ia jaga, dan mana yang seharusnya ia bebaskan, pada lelaki itu.

Dini

Berdiri tepat di sebelahnya, seorang gadis belia berseragam putih abu-abu. Dari penampilannya saja, dengan rambut kemerah-merahan, kemeja putih ketat dipadu rok abu-abu mini lima jari di atas lutut, sepatu kets dan tas sandang bermerek, sudah bisa di lihat bahwa ia bukan gadis biasa. Namanya Dini. Usianya baru genap 16 tahun. Jemari lentiknya sibuk menekan tombol-tombol yang ada pada telepon genggamnya. Yang jika ditaksir, harganya bisa mencapai dua jutaan. Sebuah harga yang tidak mungkin ia capai hanya dengan mengumpulkan uang jajan setiap hari. Sesekali ia tersenyum geli membaca balasan pesan singkat dari seberang sana. Dini berasal dari kelurga yang sangat sederhana. Ia hanya tinggal berdua dengan ibunya di sudut Kota, melewati gang-gang sempit yang padat penduduk. Mereka hidup dari warung kopi milik ibunya. Warung yang selalu ramai dikunjungi oleh lelaki-lelaki hidung belang yang selalu menggoda Ibu. Dan Ibu sepertinya juga sangat menikmati kesehariannya itu.

Selang beberapa menit, sebuah sedan mewah menghampiri Halte. Dini tersenyum genit, ketika si pengemudi membuka kaca mobilnya. Tampak seorang lelaki paruh baya, yang usianya bisa dibilang sepantaran dengan ayahnya.

Tanpa basa-basi Dini langsung masuk ke dalam mobil. Dalam sekejap mata, kendaraan itu hilang bersama deru asap dari panasnya cuaca pagi itu. Jauh dalam relung hati nya, ada rentetan airmata yang siap jatuh kapan saja. Bahkan di tengah tawanya sekalipun, ia merasa ada sebuah penyesalan yang kian menggunung. Ia begitu ingin seperti teman-teman seusianya. Namun apa mau dikata, Tuhan sepertinya tidak ingin Dini bernasib sama seperti mereka. Lama ia memandangi setumpuk kertas berwarna biru di genggamannya. Bukan karena bingung harus kemana ia habiskan uang itu. Tapi ia merasa, kapan semuanya akan berakhir. Ia lelah, namun tidak kuasa menghindari semua. Di atas atap sebuah gedung usang, Ia berteriak sekencang-kencangnya. Kenapa harus aku yang mengalami semua itu? Kenapa aku harus dilahirkan di dunia ini, jika hanya akan mengotori keindahannya? Kenapa Tuhan tidak mencabut nyawaku saja?

Tapi Dini hanya seorang gadis kecil. Yang ia butuhkan kelak hanyalah tangan seseorang yang akan membantunya keluar dari tempat yang gelap. Karena betapapun ia berusaha keras untuk mencoba sendiri keluar dari tempat itu, ia takkan mampu tanpa orang-orang yang mencintainya.

Wulan

Tidak jauh dari tempat Dini, seorang wanita usia 30-an berdiri gelisah. Menanti bus yang sedari tadi tak kunjung datang. Rambutnya yang tak tertata rapi, pakaiannya yang sangat tidak bergaya, ditambah kacamata tebal, membuat siapapun lelaki yang melintas enggan untuk menghampirinya, bahkan untuk meliriknya saja, mungkin mereka takkan sudi.

Wulan, begitu nama yang tertera di atribut sebelah kiri bajunya.

Separuh hidupnya ia habiskan hanya untuk karir dan pekerjaan. Tumpukan berkas-berkas sudah siap menantinya di atas meja kerjanya. Belum lagi ia harus menghadapi atasan yang extra perfectionist, mewajibkan seluruh bawahannya untuk berkerja sesempurna mungkin. Tidak boleh ada kesalahan sekecil apapun. Berkerja dengan waktu hampir 12 jam setiap hari. Ia bahkan tidak pernah sekalipun merasakan cinta dari lawan jenisnya. Hidupnya terlalu monoton. Ia tidak pernah merasakan bagaimana indahnya mencintai dan dicintai seseorang. Cinta seperti sudah jengah menunggunya. Menunggu untuk ia cicipi. Sifat tak acuhnya membuat semua cinta itu pergi. Kini hanya rasa sepi, setiap kali ia menerima undangan pernikahan dari rekan sejawatnya.

Perlahan ia masuk kedalam kamar sang calon pengantin. Sahabatnya tampak begitu cantik mengenakan kebaya putih bersiap-siap untuk mengikrarkan janji sehidup semati. Ia peluk sahabatnya dengan erat. Satu lagi, sahabatnya mengambil keputusan yang seharusnya ia ambil sejak dulu sebagai wanita. Yaitu menjadi istri dan kelak menjadi ibu. Ia menatap lekat kedua mata indah sahabatnya. Dalam tatapannya, sang sahabat berkata...

Kau juga harus sepertiku. Cinta itu masih ada, jika kau mau mengejarnya. Hanya butuh sedikit perubahan untuk itu…

Mereka kembali berpelukan. Sesekali ia menyeka tangis, melihat sepasang manusia di depannya yang tengah disumpah menjadi suami istri. Tapi bukan tangis bahagia yang ia rasakan, tetapi justru tangis kesunyian hatinya. Ia tidak tahu siapa kelak lelaki yang akan mendampinginya untuk duduk di depan sana. Ia bahkan tidak tahu, apakah cinta itu memang masih ada untuknya, atau tidak sama sekali.

Yulia

Jarak dua meter dari tempat Wulan berdiri, seorang Ibu duduk dengan tenang. Ia sepertinya sedang tidak terburu-buru pagi itu. Sebuah keranjang yang terbuat dari anyaman pandan, setia menemaninya menunggu bus. Kedua bola matanya tampak menatap hening jalan raya. Ada sesuatu yang ia pikirkan. Hatinya begitu gundah, meski ia sudah berusaha menutupinya dengan senyuman tulus kepada orang-orang yang menyapanya dengan panggilan Bu Yulia, sepanjang perjalanan dari rumah menuju halte. Ia juga selalu tetap ceria di depan ke tiga Putranya. Ia tidak ingin siapapun tahu tentang perih yang ia rasakan.

Perih yang ditorehkan dari ketidaksetiaan suami yang ia cintai selama 21 tahun. Selama 21 tahun tersebut, ia masih tetap mencintai suaminya. Meski sebuah goresan luka takkan hilang terhapus masa. Janji suci yang sudah ia ucapkan puluhan tahun itu, tidak pernah goyah. Bahkan ia selalu berpura-pura tidak mengetahui perbuatan suaminya, seperti layaknya seorang aktris yang sedang berakting. Kata maaf seperti sudah menjadi obat tidur yang selalu bisa menenangkan disetiap tidur malamnya. Bagi Yulia, suami seperti sayap kanannya. Jika sebelah sayap itu tidak ada, maka ia bisa mati. Ia sama sekali tidak mengutuk wanita lain yang menjadi orang ketiga dalam rumah tangganya, ia juga tidak mengutuk perbuatan suaminya yang sudah mengkhianatinya lebih dari 6 tahun. Ia hanya menyesalkan, mengapa ia tidak bisa jadi seorang istri yang bisa menjaga hati suaminya. Mengapa ia tidak bisa menjadi istri yang sempurna untuk suaminya. Apa dan siapa yang bersalah, ia juga sama sekali tidak mengerti. Dalam benaknya, hanyalah keinginan agar keluarganya tetap utuh sampai ia tak lagi bisa melayani suami dan anak-anaknya lagi. Sampai maut menjemputnya.

Di tengah malam yang semakin larut, Yulia masuk kedalam kamar anak-anaknya satu demi satu. Sebelum mengecup kening mereka, ia berbisik lembut dan menyampaikan pesan yang akan selalu diingat oleh ketiga putranya, tidak hanya dalam tidur mereka, namun dalam kenyataan yang kelak akan mereka hadapi.

Jika wanita adalah sebuah pintu, maka pria adalah kuncinya. Sampai kapanpun takkan bisa dibuka oleh kunci yang lain, jika wanita itu sudah menemukan kunci yang tepat untuknya.

Empat perempuan itu hanyalah segelintir contoh perempuan yang aku temui di sepanjang perjalanan hidupku. Lantas, aku perempuan seperti apa?? Yang jelas aku tidak ingin seperti ke empat perempuan itu. Sekalipun aku bukan perempuan sempurna, sama seperti mereka.

Aku hanya bisa berusaha untuk jadi perempuan sebaik mungkin bagi siapapun, bukan hanya bagi pasanganku. Walau bukan yang terbaik. Selanjutnya, apa yang akan terjadi esok, lusa dan seterusnya, biarlah menjadi sebuah misteri. Karena bagi perempuan seperti ku, perempuan yang tidak sempurna ini, hanya bisa berusaha dan berdoa. Semoga Tuhan selalu menjagaku. Dan terus membimbingku. Agar apa yang aku pertahankan selama ini, akan dan tetap terjaga sampai aku menemukan pasangan hidupku. Dan jika kelak lelaki itu sudah berada di depan mataku, aku ingin ia hanya mencintai ku.

Mencintai apa adanya diriku. Mencintai kelebihanku, menutupi kekuranganku. Sampai ia mati. Begitu juga sebaliknya. Aku ingin Tuhan selalu menjaga hatiku, agar aku hanya akan mencintai suamiku. Siapapun dia. Semoga.



26 November 2008